
Musibah sangat besar ialah ketika seseorang satu sama lain saling membantu melakukan maksiat kepada Allah, ketika manusia saling mendorong melakukan apa yang dilarang Allah SWT, bila Kita saling mendukung untuk meninggalkan perintah Allah SWT. ketika itulah terjadi yang namanya fitnah. Di saat itu, yang terjadi adalah dominasi seruan pada kemungkaran, larangan terhadap yang ma’ruf, anjuran untuk kmemnuhi dan mengikuti hawa nafsu.
kebalikannya, Allah SWT sangat memerintahkan kondisi saling tolong menolong salan kebaikan dan takwa. Allah SWT begitu memuliakan manusia yang bersama-sama mendukkung dakwah kepada-Nya, yang saling menasehati, saling meluruskan, saling memberi petunjuk, saling mengingatkan pada amal shalih.
Maka musibah paling berat bagi seseorang sebenarnya adalah bila ia telah dihiasi oleh syaitan manusia dan jin, sehingga melihat kebatilan itu menjadi baik, lalu ia meyakini bahwa kebatilan itu menjadi kebenaran yang patut dikerjakan. Seseorang bila tidak waspada darai perintah kepada kemaksiatan, ia akan termakan oleh tazyiin (penghiasan) syaitan yang menyebabkannya melakukan kemungkaran yang dianggap benar. Selanjutnya, ia akan terjerumus pasa kekeliruan hingga dalam bentuk kesyirikan, terjerumus dan diombang ambingkan oleh hawa nafsu.
Dengarkanlah bagaimana sumpah syaitan seperti yang dikabarkan dalam Al Qur’an surah Al Hijr ayat 39 “La-ugwiyannakumajma’iin”, Pasti akan aku sesatkan, pasti akan aku tipu, pasti akan aku perdayakan kalian wahai manusia seluruhnya. “La-uzayyinanna lahum”, Dia ingin menghiasi kebatilan agar terlihat baik. Dia ingin agar kita manusia manusia juga turut memikul beban-beban dosa yang mereka pikul. Dengarkanlah juga bagaimana sumpah syaitan untuk kita, “Inni lakuma laminannaashihiin”. (Qs. Al A’raf : 21).
Sesungguhnya kami ini adalah penasihatmu. Sebenarnya aku memberi kebaikan untukmu. Sesungguhnya aku membantumu untuk sesuatu yang berguna. Dia meyakinkan kita bahwa mereka melakukan perbaikan untuk kita. Padahal, kenyataannya, mereka dusta.
Zaman sekarang, zaman yang penuh dengan sarana melakukan kemaksiatan, Sarat dengan fasilitas yang bisa membawa kita pada kerugian. Kita disajikan banyak peluang untuk tetipu dengan keburukan yang berbalut kebaikan. Kita penting menghidupkan kembali kewaspadaan seperti ini, agar kita benar-benar saling tolong menolong atas kebaikan dan ketakwaan. Agar kita serius menerukan kebenaran. Imam Al Qurthubi rahimahullah mengatakan dalam tafsirnya, “Saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan bisa dilakukan dengan beragam cara. Maka kewajiban seorang muslim membantu orang lain dengan ilmunya dan mengajarkannya, membantu orang kaya untuk memenej hartanya, memberi dorongan kepada orang lain untuk memiliki keberanian berjuang di jalan Allah sehingga umat islam tampak sebagai satu barisan”.
Kita akan menghadapi situasi yang begitu berat, bila sebagian manusia di sekitar kita berlaku seperti hewan ternak. Hewan yang tak memiliki naluri kebaikan dan tak kmenolak kemungkaran. Lupa bahwa sesungguhnya dirinya membawa kewajiban yang harus ditunaikannya. Karena itulah Ibnu Khaldin dalam Muqaddimahnya mengatakan, “Manusia bisa mengidap kanker hewan secara keseluruhan. Baik secara perasaan, tindakan, makanan, tempat tinggal dan lainnya. Sesungguhnya manusia memiliki keistimewaan ketimbang hewan,dengan pikirannya yang bisa diarahkan untuk bisa mendapatkan penghidupan, bekerjasama dengan sesama untuk kebaikan, berhimpun untuk menciptakan suasana saling tolong menolong dalam hal itu , menerima apa yang dibawa oleh para Nabi dari Allah SWT ,dan melakukannya , serta memperbaiki akhiratnya”.
Allah SWT berfirman:
لِيَحْمِلُوْۤا اَوْزَا رَهُمْ كَا مِلَةً يَّوْمَ الْقِيٰمَةِ ۙ وَمِنْ اَوْزَا رِ الَّذِيْنَ يُضِلُّوْنَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ اَ لَا سَآءَ مَا يَزِرُوْنَ
“(ucapan mereka) menyebabkan mereka pada hari Kiamat memikul dosa-dosanya sendiri secara sempurna, dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, alangkah buruknya (dosa) yang mereka pikul itu.”
(QS. An-Nahl 16: Ayat 25)
Beban-beban dosa yang terpikul akibat kesalahan orang lain itu bisa terjadi karena tulisan,karena informasi,karena ucapan seseorang yang isinya menyebabkan orang lain melakukan sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT. Sebut saja misalnya mengajak orang untuk banyak mendengarkkan lagu-lagu dengan alasan bisa menenangkan jiwa, memberi kesenangan, dan semacamnya. Menyampaikan kepada orang lain soal kemaksiatan hingga menjadikan orang tersebut tergiur dan ingin ikut terjun merasakan kemaksiatan tersebut. Menginformasikan secara keliru, tanpa mencari bukti dan alasan yang terang tentang aibdan kesalahan para ulama, sehingga masyarakat membenci ulama tertentu dan tidak ingin mendengarkan nasihatnya dan semacamnya. Intinya adalah imformasi yang bisa menimbulkan dorongan orang lain pada kemaksiatan dan dosa.
Sesungguhnya, kita sendiripun belum mampu memikul beban-beban dosa yang kita lakukan sendiri. Bagaimanakah jika di hari kiamat kelak harus memikul beban-beban dosa yang dilakukan orang lain atas anjuran kita? bukankah Rasulullah SAW bersabda dalam hadis shahih , “Barang siapa yang mengawali kebiasaan baik dalam islam maka ia akan mendapat pahala kebaikannya ditambah pahala kebaikan orang yang melakukan kebaikan itu, tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun. Barang siapa yang memulai kebiasaan buruk dalam islam, makak ia akan memikul dosanya dan dosa orang yang melakukannya , tanpa mengurangi beeban dosa yang harus ditanggung orang tersebut sama sekali”.
kita perlu saling mengenal, sebagai langkah paling pertama untuk saling tolong menolong dalam kebaikan. Kita harus perkuat kembali kebersamaan kita karena kita semua saat ini sedang berada dalam pantauan syaitan dari kalangan jin dan manusia.